Sabtu, 09 Mei 2009

Prediksi 2009

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2009 Diprediksi Jatuh ke 3,7%

Rabu, 12 November 2008 - 17:06 wib

Mochammad Wahyudi - Okezone

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun mendatang diperkirakan akan jatuh secara tajam ke level 3,7 persen. Ini ditenggarai akan menjadi pukulan telaku dari krisis keuangan yang melanda dunia saat ini.

"Kondisi perekonomian Indonesia akan memburuk, dengan prediksi pertumbuhan turun drastis ke 3,7 persen pada tahun 2009. Semakin jelas terlihat bahwa, tidak ada satu negara pun yang kebal krisis keuangan global yang melanda dunia," ucap Direktur Corporate Network sekaligus pakar Asia Tenggara dari Economist Intelligence Unit (EUI) Justin Wood, lewat siaran pers, Jakarta, Rabu (12/11/2008).

Menurut Wood, pertumbuhan pesat dalam investasi aset tetap yang telah dinikmati Indonesia sejak tahun lalu, juga akan menurun seiring dengan ketatnya likuiditas global. Artinya ketersediaan sumber pendanaan akan semakin sulit. "Penurunan atas ekspor Indonesia juga akan berdampak kepada perekonomian," ungkapnya.

Selain adanya penurunan pertumbuhan ekonomi, Menurut Wood, pada tahun mendatang akan ada peningkatan aliran modal keluar dari Indonesia, yang mengakibatkan perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan pendanaan karena cadangan valuta asing menipis.

Prediksi itu dimuat dalam laporan EUI tentang kajian risiko bisnis di Indonesia, yang diterbitkan Oktober lalu.

Laporan tersebut juga memperingatkan akan adanya masa-masa sulit yang akan dihadapi Indonesia dalam waktu mendatang. Itu terlihat dari pasar modal dan utang yang sudah mulai terpengaruh krisis global, bersamaan dengan risiko yang muncul karena sejumlah besar surat utang negara yang dipegang oleh investor-investor asing.

"Nilai Rupiah terhadap dolar Amerika telah turun secara drastis dalam beberapa minggu terakhir, dan meskipun kejatuhan mata uang atau krisis neraca pembayaran tidak akan terjadi pada tahap ini, namun risiko pelarian modal, terutama dari investor domestik yang sejauh ini percaya kepada rupiah, masih tetap ada," pungkasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara menyatakan, bahwa sektor perbankan harus diperkuat, sehingga bisa menggerakan sektor riil.

Jika tidak, maka prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun drastis ke level 3,7 persen pada tahun depan, kemungkinan akan terwujud. Prediksi pertumbuhan tersebut dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit (EIU).

"Banking sector harus stabil karena ini merupakan pilar utama perekonomian untuk bisa menggerakan sektor riil. Prediksi pertumbuhan ekonomi 3,7 persen merupakan yang terendah yang pernah saya dengar saat ini," ungkap Mirza.

Dia menambahkan, setelah sektor perbankan sudah stabil, maka giliran Bank Indonesia menjaga tingkat suku bunga. Kendati demikian, Mirza menekankan, itu bukan berarti BI harus cenderung untuk menaikkan suku bunganya lagi

"Suku bunga yang sekarang ini bisa dimaintenance, tp tidak ada kecenderungan untuk naik. Mungkin suku bunga baru bisa diturunin di akhir kuartal 1 tahun 2009," pungkasnya. (ade) (rhs)

Sabtu, 04 April 2009 20:00

Menteri ESDM : IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 3,5%

MESDM

YOGYAKARTA.Ditengah krisis ekonomi global, Indonesia diprediksi masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibanding negara lain. Mengutip revisi pertumbuhan ekonomi dunia IMF, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi sebesar 3,5%.


"Dengan laju sebesar itu posisi Indonesia lebih baik dari laju pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang,'' papar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro saat menyampaikan kuliah umum berjudul, "Ekonomi Indonesia Di Masa Kisis Ekonomi Global : Tantangan Sektor ESDM" didepan mahasiswa pascasarjana Universitas Atmajaya, Yogyakarta, Sabtu (4/4). Pada acara tersebut Menteri menyampaikan gambaran kondisi perekonomian Indonesia serta peran sektor ESDM didalamnya.

Diungkapkan oleh Menteri ESDM, sektor ESDM selama ini memiliki peran yang strategis dalam perekonomian Indonesia. Baik sebagai sumber penerimaan Negara, penarik investasi, penggerak roda perekonomian, mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menyediakan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung.

Sebagai gambaran Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menuturkan pada tahun 2008, sektor ESDM memberikan kontribusi dalam penerimaan sebesar Rp. 349.477,30 miliar atau sekitar 36% dari total penerimaan Negara. Sedang lapangan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung, yang bias disediakan mencapai 1.752.956 pekerja.

Kendati memiliki kontribusi yang tergolong cukup besar, namun Sektor ESDM bukan termasuk yang mendapatkan aliran dana APBN yang besar. Sebagai gambaran pada tahun 2008 plowback atau alokasi dana APBN untuk sektor ESDM sebesar Rp 5.903,17 miliar atau sekitar1,69% total belanja Negara. "Peran sektor ESDM ini masih akan terus berlanjut,'' papar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.

Pada kesempatan tersebut juga diungkapkan guna mengakomodir tantangan perekonomian global, tuntutan demokratisasi, desentralisasi, HAM, lingkungan hidup serta meningkatkan penerimaan negara telah disahkannya Undang-Undang No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. UU Nomor 4 Tahun 2009 ini sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967.

''Dengan diberlakukan UU Nomor 4 Tahun 2009 maka akan dapat meningkatkan nilai tambah produk pertambangan sehingga lebih menguntungkan bagi negara,'' ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Selain itu UU tersebut juga mengamankan dan melindungi semua kontrak dan kuasa pertambangan serta memberikan perlindungan bagi lingkungan dan konservasi sumber daya mineral.

Menteri ESDM juga memaparkan peluang pengembangan sektor energi dan sumber daya mineral dengan memberikan penjelasan mengenai potensi cadangan dan produksi energi dan sumber daya mineral di Indonesia.
Dalam acara yang mengambil tema "Tantangan Ekonomi Dunia Menghadapi Krisis Global Dari Sudut Pandang Sektor ESDM", hadir Kepala Badan Diklat ESDM Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Keuangan serta Kepala Biro Prencanaan dan Kerjasama ESDM

Forecast Ekonomi Indonesia 2009

Resesi yang bermula di US dengan masalah pada subprime mortgage Agustus 2008. Kasus subprime mortgage ini menimbulkan efek domino yang meluas, di mana stock price berguguran, bursa2 dunia ikut terseret, bahkan perusahaan keuangan global sekelas Lehman Brothers satu per satu juga rontok.

Berdasrkan business week, diperkirakan kekayaan orang US saja yang hilang mencapai US $ 10 T, dan jumlah itu setara dengan Rp. 105.000 T atau 100x nya APBN Indonesia. Hal ini belum menghitung hilangnya kekayaan di berbagai benua lainnya. Di indonesia, kekayaan para pemian bursa menyusut hampir separuhnya, banyak yang mengalami kerugian.

Krisis ini juga menghantam sektor riil. Perusahaan raksasa otomotif US ikut kena imbasnya. Resesi inipun menyebar secepat dampak krisis finansialnya. Beragam upaya untuk mengerem laju dampak buruk ini terus gencar, namun masih juga belum menunjukkan hasil signifikan. Bailout terus digelontorkan hingga ratusan miliar dolar oelh berbagai negara. US pun sebagai sumber krisis juga telah mengucurkan US $ 700 M. Tapi para ekonom pesimis krisis ini akan berakhir cepat. Menurut Stephen Roach (kepala ekonom morgan stanley asia di jakarta) mengatakan paling cepat pemulihan baru terasa pada tahun 2010.

Krisis US tersebut berdampak global dan akhirnya juga berdampak pada negeri kita Indonesia, dimana perekonomian Indonesia melambat. Tingkat pengangguran semakin melonjak sehubungan dengan sector manufaktur yang ikut terpukul juga.

Apabila kita tarik mundur di mana terjadi krismon tahun 1998 yang mendera negara-negara asia termasuk Indonesia, krisis keuangan kali ini jauh lebih parah dan besaar. Krisis kali ini membuat perekonomian global meltdown menuju jurang resesi, sesuram great depression tahun 1930. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, risiko perlambatan ekonomi tak bisa dihindari, dampaknya diprediksi akan cukup dalam pada semester I tahun 2009 ini. Penyebabnya, faktor pendorong pertumbuhan (ekspor dan investasi) terpukul. The most severe impact memang sektor riil, di mana lesunya permintaan global akan membuat industri berbasis ekpor seperti kerajinan-meubel-tekstil akan merosot tajam.

Sektor moneter juga berisiko pada tahun 2009 ini. Cadangan devisa kita sudah melorot. Sepanjang 2008 Rp telah terdepresiasi +/- 16% dari semula 9.395/dolar menjadi 11.100/dolar. Terus melemahnya Rp dapat memicu inflasi yang makin tinggi. Namun d tengah2 threat tersebut, masi ada secercah harapan. Sektor energi, pangan, dan juga infrastruktur dinilai masih menjanjikan dan memeberikan opportunity. Bank Indonesia, selaku bank central membuat kebijakan2 breakthrough dengan menurunkan suku bunga acuan. Suku bunga BI rate diturunkan sebesar 50 basis poin menjadi 8,75%. Keputusan penurunan BI rate ini diambil setelah melihat kondisi keseluruhan ekonomi moneter dan prospek perekonomian 2009.

Beberapa sektor dinilai masih berpotensi bertahan bahkan tumbuh, yaitu sektor usaha kecil dan menengah. Sektor energi terutama batubara dan gas, tetap berpotensi bangkit kendati tahun lalu harga cenderung menurun. Sektor pangan dan infrastruktur juga masih berpotensi pada tahun 2009 ini. Sektor energi, pangan dan infrastruktur masih memberikan harapan karena 3 sektor ini mempunyai pangsa pasar yang besar, ketiganya ini akan menjadi pilar-pilar penting.

Prediksi Pertumbuhan Versi Pemerintah Indonesia

Perkebunan = 2,5%

Kehutanan = -2,5%

Pertambangan migas = 2,5%

Industri nonmigas = 2,0%

Listrik, gas, dan air minum = 6,5%

Bangunan = 5,0%

Perdagangan = 6,5%

Telekomunikasi = 10,0%

Keuangan = 5,0%

Tujuh Agenda Ekonomi Prioritas 2009

1. Membatasi pengangguran baru akibat resesi di dunia

2. Mengelola inflasi oada batas tertentu

3. Menjaga sekuat tenaga gerak sektor riil dengan sejumlah kebijakan, termasuk insentif fiskal

4. Mempertahankan daya beli masyarakat

5. Melindungi masyarakat miskin dengan penyaluran bantuan langsung tunai dan lain2

6. Memelihra kecukupan pangan dan energi

7. Menjaga momentum pertumbuhan di atas 4,5%

Sumber: TEMPO, edisi 12, 18 Januari 2009

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger